Mempersiapkan Kepiting Menjadi Komoditas Andalan

Posted: 7 Januari 2008 in Situs Terkait
Tag:
Selama ini, udang menjadi andalan ekspor non-migas Indonesia. Namun, sejak serangan virus white spot, produksi udang tambak menurun drastis. Bahkan informasi terakhir, udang Indonesia ditolak di Jepang.
Penolakan ini bukan kali pertama terjadi. Kontaminasi antibiotik pada udang Indonesia ini mungkin ada kaitannya dengan serangan virus tersebut. Supaya hal ini tidak terjadi lagi maka semua komponen yang terlibat dalam perudangan Indonesia harus benar-benar berbenah diri. Sambil melakukan pembenahan dan perbaikan pada perudangan Indonesia, kepiting dapat dijadikan sebagai komoditas alternatif untuk meraup devisa.

Ini mengingat, potensi kepiting di Indonesia yang sangat memungkinkan dan permintaan luar negeri yang tinggi. Sayang, prospek bisnis yang sangat menjanjikan ini belum mendapat perhatian yang cukup dari pengusaha. Padahal mulai dari pembenihan hingga budidayanya menjanjikan keuntungan yang besar.

Akibatnya, Balai Budidaya Air Payau Takalar kewalahan melayani permintaan bibit yang cukup besar dari berbagai daerah di Sulawesi karena hanya institusi pemerintah itulah yang memproduksi bibit kepiting dan rajungan di daerah ini. Mungkin sudah saatnya pihak swasta mengambil alih tugas tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan investasi dan usaha di bidang kelautan pada umumnya sangat rendah.

Tapi yang paling utama adalah kebijakan pembangunan ekonomi yang belum memihak ke bidang ini serta belum dipahaminya potensi dan peluang usaha (bisnis) di bidang ini oleh kalangan pengusaha, perbankan, pemerintah, dan stakeholders lainnya. Karena itu, penulis mencoba memperkenalkan potensi dan peluang bisnis usaha kepiting ini agar dimasa yang akan datang kepiting dapat juga dijadikan komoditas andalan.

KEBUTUHAN KEPITING DUNIA

Baik kepiting bakau maupun rajungan adalah komoditas ekspor yang sangat menjanjikan. Berdasarkan data yang tersedia di Departemen Kelautan dan Perikanan, permintaan kepiting dan rajungan dari pengusaha restoran sea food Amerika Serikat saja mencapai 450 ton setiap bulan. Jumlah tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan hasil tangkapan di alam dan produksi budidaya yang masih sangat minim.

Padahal, negara yang menjadi tujuan ekspor kepiting bukan hanya Amerika tetapi juga Cina, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa. Sebuah perusahaan di Tarakan yang menjadi pengumpul sekaligus eksportir kepiting mengaku hanya sanggup mengirim 20 ton kepiting per bulan ke Korea, padahal permintaan mencapai 80 ton per bulan (Kaltim Post Cyber News, 27 April 2007). Kepiting tersebut diekspor dalam bentuk segar/hidup, beku, maupun dalam kaleng. Di luar negeri, kepiting merupakan menu restoran yang cukup bergengsi. Dan pada musim-musim tertentu harga kepiting melonjak karena permintaan yang juga meningkat terutama pada perayaan-perayaan penting seperti imlek dan lain-lain. Pada saat-saat tersebut harga kepiting hidup di tingkat pedagang pengumpul dapat mencapai Rp.100.000,- per kg yang pada hari biasa hanya Rp.40.000,- untuk grade CB (betina besar berisi/bertelur, ukuran > 200 g/ekor) dan Rp.30.000,- untuk LB (jantan besar berisi, ukuran > 500g- 1000g/ekor). Kepiting lunak/soka harganya dua kali lipat lebih tinggi. Di luar negeri, harga kepiting bakau grade CB dapat mencapai 8.40 U$ – 9.70 U$ per kg sedangkan LB dihargai 6.10 U$ – 9.00 U$ per kg. Ukuran >1000g (Super crab) harganya 10.5 U$ per kg. Mengapa kepiting banyak diminati? ternyata daging kepiting, tidak saja lezat tetapi juga menyehatkan.

 

 Daging kepiting mengandung nutrisi penting bagi kehidupan dan kesehatan. Meskipun mengandung kholesterol, makanan ini rendah kandungan lemak jenuh, merupakan sumber Niacin, Folate, dan Potassium yang baik, dan merupakan sumber protein, Vitamin B12, Phosphorous, Zinc, Copper, dan Selenium yang sangat baik. Selenium diyakini berperan dalam mencegah kanker dan pengrusakan kromosom, juga meningkatkan daya tahan terhadap infeksi virus dan bakteri. Selain itu, Fisheries Research and Development Corporation di Australia melaporkan bahwa dalam 100 gram daging kepiting bakau mengandung 22 mg Omega-3 (EPA), 58 mg Omega-3 (DHA), dan 15 mg Omega-6 (AA) yang begitu penting untuk pertumbuhan dan kecerdasan anak. Bahkan kandungan asam lemak penting ini pada rajungan lebih tinggi lagi. Dalam 100 gram daging rajungan mengandung 137 mg Omega-3 (EPA), 90 mg Omega-3 (DHA), dan 86 mg Omega-6 (AA). Untuk kepiting lunak/soka, selain tidak repot memakannya karena kulitnya tidak perlu disisihkan, nilai nutrisinya juga lebih tinggi, terutama kandungan chitosan dan karotenoid yang biasanya banyak terdapat pada kulit semuanya dapat dimakan. Bukan hanya dagingnya yang mempunyai nilai komersil, kulitnyapun dapat ditukar dengan dollar. Kulit kepiting diekspor dalam bentuk kering sebagai sumber chitin, chitosan dan karotenoid yang dimanfaatkan oleh berbagai industri sebagai bahan baku obat, kosmetik, pangan, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut memegang peran sebagai anti virus dan anti bakteri dan juga digunakan sebagai obat untuk meringankan dan mengobati luka bakar. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai bahan pengawet makanan yang murah dan aman.

POTENSI KEPITING INDONESIA

Indonesia dikenal sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia dengan luas perairan laut termasuk zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI) sekitar 5.8 juta kilometer persegi atau 75% dari total wilayah Indonesia. Wilayah laut tersebut ditaburi lebih dari 17.500 pulau dan dikelilingi garis pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan terpanjang di dunia setelah Kanada.

Di sepanjang pantai tersebut, yang potensil sebagai lahan tambak ± 1.2 juta Ha. Yang digunakan sebagai tambak udang baru 300.000 Ha. (Dahuri, 2005). Sisanya masih tidur. Artinya, peluang membangunkan potensi tambak tidur tersebut untuk budidaya kepiting masih terbuka lebar. Kepiting dapat ditemukan di sepanjang pantai Indonesia. Ada dua jenis kepiting yang memiliki nilai komersil, yakni kepiting bakau dan rajungan. Di dunia, kepiting bakau sendiri terdiri atas 4 spesies dan keempatnya ditemukan di Indonesia, yakni: kepiting bakau merah (Scylla olivacea) atau di dunia internasional dikenal dengan nama “red/orange mud crab”, kepiting bakau hijau (S.serrata) yang dikenal sebagai “giant mud crab” karena ukurannya yang dapat mencapai 2-3 kg per ekor, S. tranquebarica (Kepiting bakau ungu) juga dapat mencapai ukuran besar dan S. paramamosain (kepiting bakau putih). Di Indonesia, spesies rajungan yang terkenal dan memiliki nilai ekspor adalah Portunus pelagicus, juga dikenal sebagai Swimming Crab. Potensi kepiting bakau yang melimpah di negeri kita ini, terlihat ketika penulis berkunjung ke salah satu pendaratan ikan di Malili (Kabupaten Luwu Timur) sebagai salah satu rangkaian kegiatan mencari sumber induk kepiting bermutu. Hanya dalam hitungan menit, ratusan kepiting dari berbagai spesies dan ukuran didaratkan disana. Ternyata, pengumpul kepiting dari Makassar telah menunggu dan segera mensortir kepiting layak ekspor, sisanya (Grade BS/rejected live mud crab) dijual kepada pedagang lokal. Menurut pengelola pendaratan ikan tersebut, setiap harinya didaratkan sekitar 800-1000 kg kepiting dan langsung habis terjual. Hal yang sama juga terjadi di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

TEKNOLOGI YANG MENDUKUNG

Bila ingin menjadikan kepiting sebagai komoditas andalan maka penangkapan dari alam saja tidaklah cukup. Bahkan penangkapan yang berlebihan dapat mengancam kelestarian hewan ini. Karena itu, budidaya adalah pilihan yang tepat. Ada beberapa teknologi yang mendukung kegiatan budidaya tersebut, yakni: pembenihan, pembesaran, penggemukan, produksi kepiting bertelur, dan produksi kepiting lunak/soka.

Pembibitan kepiting dilakukan di hatchery sebagaimana udang. Hatchery sebaiknya dibangun di daerah dekat pantai, berpasir, banyak tumbuh karang sehingga dengan mudah mendapatkan air bersih melalui pemompaan sehingga lebih ekonomis. Diusahakan jauh dari muara sungai atau arus tempat aliran air tawar yang dapat menurunkan salinitas, bebas limbah, baik limbah industri, pertanian, maupun rumah tangga. Untuk kebutuhan pembenihan rajungan, induk yang digunakan berukuran minimal 200 g per ekor, sehat, bersih, organ tubuh lengkap, dan sudah mulai matang gonad. Sedangkan untuk pembenihan kepiting bakau, ukuran induk yang digunakan lebih besar, sebaiknya beratnya minimal 500 g. Kurang lebih 2 minggu pemeliharaan biasanya kepiting sudah bertelur dan 9-12 hari kemudian telur-telur akan menetas.

Jumlah larva untuk sekali peneluran dapat mencapai jutaan ekor. Pada hari ke 50-60, kepiting/rajungan sudah mencapai fase kepiting muda dan sudah siap di tebar di tambak. Pembesaran umumnya dilakukan di dalam tambak baik dengan maupun tanpa pagar bambu atau waring, juga dapat ditumpangsarikan dengan rumput laut. Penggemukan dan produksi kepiting bertelur dilakukan dalam kurungan yang terbuat dari bambu atau dalam keramba apung, dan kepiting lunak dipelihara dalam keranjang secara individu. Ukuran keramba dapat dimodifikasi, tergantung pada target produksi, kemampuan dan permodalan. Keramba diberi pelampung pada setiap sisinya, kemudian dapat diletakkan dalam tambak, saluran pemasukan air, atau daerah pinggiran sungai. Pemilihan spesies dan teknik budidaya perlu dilakukan dengan cermat agar usaha ini lebih menguntungkan. Untuk tujuan produksi daging, budidaya sebaiknya di arahkan ke kultur monoseks jantan terutama spesies S. serrata dan S. transquebarica (kepiting bakau hijau dan ungu/hitam) karena lebih cepat besar sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran ekspor lebih singkat. Untuk produksi kepiting bertelur, sebaiknya menggunakan spesies S. olivacea (kepiting bakau merah/orange) karena lebih cepat bertelur. Untuk produksi kepiting lunak/soka kepiting yang dijadikan bahan baku dapat dari semua spesies dengan ukuran lebar karapas 5-7 cm. Setelah molting atau berganti kulit, ukuran kepiting akan bertambah sekitar 30%.

Oleh Dr Yushinta Fujaya Muskar, Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas

Komentar
  1. rezs mengatakan:

    Salam Sejahtera utk Redaksi..
    saya tertarik dgn info market, harga & standart pacage / pengemasan Kepiting bakau papua…
    Dapatkah saya dibantu negara tetangga mana saja yg tinggi akan permintaan Kepiting bakau Papua tsb..
    Trima ksh atas Info yg akan diberikan..

    • purnomo mengatakan:

      Yth:
      Kami membutuhkan kepiting papua untuk suplai resto.
      Lokasi anda di mana?
      Bisa hub kami di nol-delapan-satu-dua-tiga-satu-nol-tujuh-tiga-delapan-tiga-satu.

      Terima kasih!

  2. Asep Edwin Herdiana mengatakan:

    salam
    saya tertarik dengan info teknik & cara pembesaran kepiting dan cara pengemasan, trus dimana kira-kira potensi pasar di indonesia yang inggi akan permintaan kepiting bakau.
    saya tinggal didaerah Ciamis jawa barat

  3. setiawan mengatakan:

    tanya:
    apakah ada informasi untuk pengembangbiakan kepiting bakau didalam kolam air tawar? barangkali dari penulis atau ada diantara pembaca yg punya informasinya atau punya pengalaman mengembakbiakan kepitin gbakau didalam kolam airtawar
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s