Produk Udang Indonesia Belum Kompetitif

Posted: 7 Januari 2008 in Situs Terkait
Tag:

Produksi udang Indonesia harus lebih kompetitif agar mampu memanfaatkan secara maksimal fasilitas bebas bea masuk ke Jepang untuk produk perikanan, menyusul kesepakatan Economic Partnership Agreement (EPA) antara Indonesia-Jepang. 
 
“Hambatan untuk memanfaatkan fasilitas bebas bea masuk produk perikanan ke Jepang, adalah rendahnya penguasaan teknologi perikanan oleh pembudidaya udang. Ini harus dibenahi,” kata Ketua Umum Shrimp Club Indonesia Iwan Sutanto, Senin (20/8) di Jakarta.Iwan mengatakan kurang kompetitifnya produk perikanan Indonesia, ditunjukkan dengan selisih harga produk udang beku atau frozen head-less shrimp yang mencapai 20 sen Amerika per kilogram. Saat ini, harga satu kilogram frozen head-less shrimp senilai 5,5 dollar Amerika.

“Bila saja teknologi perikanan budidaya kita kuasai, maka biaya produksi udang dapat ditekan. Kemudian, produktivitas tambak udang khususnya tambak tradisional dapat ditingkatkan dari 0,5-0,8 ton per tahun menjadi 1-2 ton per tahun,” kata Iwan.

Menurut Iwan, produk udang Indonesia kalah kompetitif dari sisi harga, bila dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam. ”Pembenahannya, harus lebih banyak kepada para petambak tradisional,” ditegaskan Iwan.

Di Indonesia, dari potensi lahan tambak udang kurang lebih 1.2 juta hektar, baru dimanfaatkan seluas 350.000 hektar. Dari jumlah itu, petambak tradisional menguasai 75 persen lahan, baru kemudian petambak semi-intensif, dan petambak intensif berupa perusahaan.

Iwan menegaskan yang dibutuhkan adalah peningkatan penguasaan atas teknologi, bukan pengalihan lahan dari petambak tradisional kepada perusahaan udang besar.

”Di Thailand, sebagian besar petambak juga para pengusaha kecil dan mikro, namun mereka berdaya dan mengerti teknologi. Daripada dikuasai korporasi besar, namun sewaktu-waktu bisnisnya dapat ambruk,” ujar Iwan.

Menurut data dari Pusat Data, Statistik dan Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan, volume ekspor udang menuju Jepang sebesar 59.619 ton (2002), 60.235 ton (2003), 49.282 ton (2004), 45.951 ton (2005), dan 50.380 ton (2006).

”Keunggulan yang didapat Indonesia, berdasarkan kesepakatan EPA dengan Jepang bukan pada produk udang beku, melainkan pada produk udang olahan. Sebab bea masuk Indonesia sebesar nol, sedangkan untuk Thailand dan Vietnam masih 5-10 persen,” kata Direktur Kelembagaan Internasional DKP Anang Noegroho Setyo Moeljono.

Anang mengatakan DKP sangat berharap Jepang mau menginvestasikan modal untuk mengembangkan industri pengolahan udang di Indonesia. Apalagi, nilai ekspor udang olahan masih kecil, yakni hanya 420 ton dari total volume ekspor sebesar 50.380 ton (2006).

”Produk udang olahan yang digemari di Jepang, misalnya udang yang dilaburi tepung. Masyarakat Jepang senang produk itu, karena mereka butuh makanan yang dapat dimakan dengan pengolahan yang praktis,” kata Anang.

Sementara ini, kata Anang, Jepang telah sepakat membantu Indonesia membentuk kerja sama teknis, untuk meningkatkan kapasitas distribusi dan pengembangan terminal pemasaran ekspor produk perikanan.

Iwan menambahkan di tahun 2007 ini, Shrimp Club Indonesia dan asosiasi-asosiasi udang, telah menegaskan sebagai tahun kualitas. Dia berharap mulai tahun 2007 ini hingga masa mendatang, tidak ada lagi produk udang Indonesia yang ditolak di Jepang, maupun negara-negara lainnya. (RYO)

Sumber : KCM
wawan

Komentar
  1. yusan mengatakan:

    minta alamat SCI dong….aku butuh info tentang data2 perusahaan udang nih..pengen bisnis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s