Perkembangan udang introduksi dimasyarakat

Posted: 30 Januari 2008 in Berita Perikanan
Tag:

Terpuruknya usaha budidaya udang windu di negara kita sejak tahun 1993, merangsang para pengusaha tambak untuk memperbaiki usahanya melalui impor udang yang ditengarai memiliki performance lebih baik dibanding udang windu. Berdasarkan Surat Dirjen Perikanan pada Oktober 2000 telah diberikan rekomendasi pemasukan benih dan induk udang vaname kepada PT Alamanda Tjandra (sebagai Pioneer) dengan mensyaratkan beberapa ketentuan :

a. Benih dan induk udang yang akan diimpor harus memiliki Surat Kesehatan Ikan (Fish Health Certificate) dan Surat Keterangan Asal (Certificate or Original) dari negara asal.

b. Termasuk kategori Specific Pathogenic Free (SPF) terhadap Taura Syndrome Virus dan Specific Pathogenic Resistant (SPR) terhadap Taura Syndrome Virus, SEMBV dan Yellowhead Deseases

c. Sebelum dikembangkan harus melalui proses uji coba; jika hasil uji coba menunjukkan dampak negatif bagi perkembangan udang nasional, maka udang tersebut dimusnahkan.

d. Memenuhi ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang karantina, impor dan peredaran benih dan induk udang.

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Gondol yang memberikan perkembangan positif, melalui KepMen Kelautan dan Perikanan, pada Juli 2001 udang vaname telah dilepas sebagai udang unggul dan dapat dikembangkan di masyarakat, dengan persyaratan iinduk unggul tersedia. Dalam perkembangannya udang vaname cukup menarik para pengusaha dan petani tambak untuk melakukan pembudidayaan di tambak khususnya di propinsi Jawa Timur, Lampung dan Bali, karena jenis udang ini mempunyai tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih resistant terhadap White Spot yang saat ini melanda budidaya udang windu. Namun dalam perkembangan selanjutnya, udang tersebut menunjukkan perkembangan negative dengan adanya kondisi-kondisi sebagai berikut :

a. Selain induk impor semakin banyak hatchery baik di propinsi Lampung, Bali dan khususnya Jawa Timur yang menggunakan induk hasil budidaya petambak setempat yang diperoleh melalui seleksi berdasarkan ukuran berat dan kelengkapan organ tubuh saja, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang benar dalam menghasilkan induk.

b. Penerapan tekhnologi intensif dengan padat tebar lebih besar dari 100 ekor/m², bahkan beberapa tempat di Jawa Timur dan Bali terdapat petani yang menerapkan penebaran lebih dari itu, dikhawatirkan akan berdampak negative bagi daya dukung perairan.

c. Pemantauan di Jawa Timur dan Bali telah ditemukan gejala klinis TSV pada udang yang dibudidayakan di tambak. Namun masih bisa dipelihara terus sampai panen, sementara hasil pemantauaqn di Lampung masih menunjukkan kondisi virus negatif

Pemantauan terakhir terhadap perkembangan udang Vaname serta pemantauan awal terhadap perkembangan udang Rostris dilakukan pada bulan November 2003 di lima propinsi pengembangan utama yaitu, di Propinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.
(perikanan-budidaya.go.id) 
Komentar
  1. wisriati mengatakan:

    Saran, agar informasi dapat diperkaya dengan data hatchery dan petambak yang masih exist baik di Lampung, Bali dan khususnya jawa timur.

  2. aulia hayati mengatakan:

    usaha untuk mengembangkan usaha budidaya udang memang mudah-mudah sulit,,
    jika tidak ditangani dengan baik maka udang akan mudah terkena penyakit seperti white spot yang dapat menurunkan nilai jual udang tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s